Sesungguhnya Amal itu Tergantung Pada Niatnya Kunjungi Kami!

12 Mei, Kerja Lagi

Lebaran idulfitri telah usai; shalat sunah, kumpul keluarga, acara bani-bani dan liburan. Sisa-sisa idulfitri masih tak seutuhnya hilang. Kini, disambut “Monday Here” dengan kerjaan yang berjibun. Baik tugas sisa Bulan Ramadan kemarin, atau proyek lanjutan untuk tantangan baru.

Diakui atau tidak, sebagian kita berkeluh dalam intensitasnya masing-masing. “Kerja lagi kerja lagi”. Sebenarnya masih ingin liburan, tapi sudah bosan. Kerja pun masih belum siap sepenuhnya. Tekanan pekerjaan, iklim pekerjaan dan lain-lain terkadang menjadi alasan tak terelakan.

Untungnya, ada sedikit kelonggaran akibat arus balik mudik yang padat. Kementerian terkait menghimbau Work From Home (WFH). Angin segar. Tapi mudah-mudahan tidak keterusan (jawa: Ketumanan). Biasanya 9 Mei sudah aktif, namun ditunda hingga 11 Mei 2022. Bagi mereka oke-oke sajalah, tapi bagi kami yang kantornya di sawah, “ra kerjo, ra mangan koe le”.

Tapi saya yakin, rejeki bukan soal kuantitas finansial. Ada post-post yang manusia modern mulai lupakan. Istilah anak pesantren, “berkah atau barokah”. Ya, barokah memang tak kasat mata, tapi begitu nyata. Pernahkah Anda memiliki uang nomplok, tapi juga lengkap dengan musibah yang datang di kemudian? Wallaahu A’lam.

Pak Bakso tak bisa WFH, begitu pun Tukang Siomay dan Pak Tahu Bulat. Mereka kerja untuk bisa makan di hari itu atau esok harinya. Tidak seperti yang “di atas sana”; Hari ini kita makan apa ya? Para pedagang asongan itu: pak bakso, pak siomay dan tahu bulat contoh implementasi tawakkal.

Saya jadi teringat Penjual Pentol di sekolah dekat rumah. Sepeda ontel ala Raleigh yang ia kayuh nyaris tak berubah sampai tahun sekarang. Meski sebagian orderdilnya sudah diremajakan. Ia bertahan, meski para sesamanya sudah bertransformasi ke sepeda motor. Bayangkan, kurang lebih 20 tahun lebih ia menjajakan pentol tahu di sekolah kami. Saya ingat betul itu. Dulu pentol tahu ditusuk pakai lidi ala sate, sekarang dibungkus kresek bening. Tak ada tusuk-tusukan lagi.

Jarak kayuh sepeda ontel kurang lebih 3 km. Dengan beban bawaan yang tentu tak lebih ringan dari tabung gas elpigi 3 kg kali dua. Sering kali berpapasan dengan pak tua itu, selalu memberikan renungan tersendiri. Mengapa dia bisa bertahan, padahal anak-anaknya sudah sukses finansial?

Barokah. Ya benar, saya yakin sekali. Barokah menjadi sumbu utama mengapa dia tetap bertahan. Bertahan tetap mengayuh dengan jarak 3 km setiap hari dan beban bawaan yang tak ringan. Bukan tak punya motor, bahkan anaknya bermobil.

Barokah adalah ziyadatul khoir ba’da khoir. Bertambahnya kebaikan dan kemanfaatan setelah sesuatunya didapat. Kerja memang tak mudah, ada ribuan orang di sana mengantri mencari pekerjaan; tak lagi memikirkan sesuai dengan latar belakang pendidikan atau tidak. Yang penting kerja, dan menyambung hidup.

Dengan sudut pandang “barokah” ini, bisa menjadi obat mujarab bagi keluh kesah, kekhawatiran dan ketakutan akan pekerjaan. Memang tak bisa masuk di akal.

Ketakutan akan pekerjaan memang menjadi tantangan tersendiri. Datang ke kantor sungkan, tidak bekerja maka tidak akan makan. Ya bagaimana, kerja kadang mendapat tekanan dari atasan. Belum lagi target yang begitu muluk, atau ikut campur hal teknis mendasar.

Kekhawatiran dan ketakutan memanglah berbeda. Tapi setidaknya keduanya tercangkup dalam kehampaan makna. Indikasi yang banyak ditemui, hilangnya ketentraman dan kenyamanan di kantor, dan perilaku berlebih-lebihan.

Biasanya tidak pernah lembur, tiba-tiba ia sering lembur tanpa alasan yang jelas. Lembur secara kontinu seolah menjadi mesin produksi tanpa mati. Atau ada karyawan yang awalnya kalem, lalu kemudian berubah menjadi lebih agresif.

Apapun indikasi dari ketakutan itu, yang perlu disadari betapa berdampaknya semua itu di masa panjang. Bila dibiarkan hingga mengalami ketidakbermanaan dan helplesness, maka akan sangat mengganggu pekerjaan. Otomatis, panggung rumah tangga sedikit goyah. Meski tidak selalu.



About the Author

Master of Psychology | Writer | Content Creator | Adventurer

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.